Tugas Bahasa Indonesia kelas XI SMA Hal 95-96

Tugas Bahasa Indonesia kelas XI SMA Hal 95-96







Tugas Bahasa Indonesia kelas XI SMA Hal 95-96










Hal 95-96
No
Struktu teks “Guyonan Bersama Pementasan Teater Gandrik ‘Gundala Gawat
1
Orientasi :
“Gundala Gawat” karya budayawan Goenawan Mohamad (GM) diadaptasi dari
serial komik “Gundala Putera Petir” karya Hasmi. GM menganggap ini adalah
karya guyonan belaka. “Sesekali kita boleh to, merenungkan sesuatu dengan
cara yang guyonan,” kata GM, “semua terserah pada pencernaan penonton.” Seperti diakui oleh si seniman dariNjogja yang kondang karena karakternya yang unik dan kuat meniru berbagai logat dan karakter pengucapan tokohtokohnomer satu Indonesia, bahwa, ”Pementasan naskah ini oleh Teater Gandrik adalah sebuah tawaran  bagi publik untuk menafsirkan nilai-nilai sebuah esensi,” kata Butet Kartaredjasa, “apakah guyonan ala kami sama denganguyonan gaya OVJ.”
2
Tafsiran:
Mendengarkan ucapan kedua tokoh utama di balik pementasan Teater Gandrik
itu, terbayang bagi saya untuk mencernanya ke dalam keseluruhan peristiwa
pementasan itu di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, 16—17 April 2013.
Terdapat beragam tanggapan dan responmasyarakat setelah menyaksikannya.
Muncul pula kritik dari beberapa media,namun secara umum, memberikan
nilai plus. Begitupun saya rasa, dari sekian penonton yang antusias menikmati
suguhan seni ala nJogja itu.

Harian Suara Merdeka melalui tulisan Sony Wibisono, tak kurang, memberikan
judul ”Idealisme Sepi Gundala ’Njembling’” pada review terhadap pementasan
itu. Namun toh, isi dari kandungan tulisan Sony lebih menekankan pada
tajuk ”Gundala”, dalam cerita yang ditulis Goenawan Mohamad ini menjadi
sosok yang sangat dirindukan Hasmi untuk dihidupkan kembali. Dan sebagai
teater modern, Teater Gandrik mematuhi rel naskah, tapi dagelan Jogja
terutama plesetannya adalah ”kewajiban”. Cerita ”Gundala Gawat” setidaknya
memberikan sindiran yang kontesktual dengan kondisi Indonesia. Pertama
kelompok koruptor, pengalihan isu dari wabah petir, dan idealisme yang tidak
laku.”

 Begitupun, Harian Jawa Pos yang memuatnya sebagai headline, menekankan
sebuah data, seperti lakon-lakon sebelumnya, lewat ”Gundala Gawat”, Gandrik
tetap tampil dengan sarkastik, kritis, dan penuh gelak tawa. Untung Basuki,
aktor kawakan Bengkel Teater Rendra era 1980—1990-an, ketika saya mintai
pendapat, hanya menggeleng-gelengkan kepala. ”Saya ndak habis pikir, GM,
membuat adaptasi naskah teater yang seperti itu,” katanya.

Dan kata Iwan Sudjono, seniman Jogja yang sudah kerapkali berpentas di luar
negeri juga memberikan tanggapannya. ”Sebagai drama, secara plot cukuplah
saya pahami maksudnya. Tapi saya rasa, terlampau banyak badutannya.
Sehingga agak luput seperti apa yang saya bayangkan, ketika naskah ini ditulis
oleh seorang GM.”

Almarhum Rendra memberikan pengertian kepada saya dalam sebuah
pendapatnya, ”Yang paling menonjol dari sebuah pementasan drama adalah
bagaimana kejelian sutradara mengalirkan plot. Sehingga dramaturgi yang
terbentuk akan menjadi penanda bagaimana emosi penonton ikut dan hanyut
ke dalam semangat pertunjukan.”

Menyaksikan secara utuh, pementasan Teater Gandrik pada sajian ”Gundala
Gawat” dari sejak gladi resik, pementasan hari pertama dan kedua, dan
mensinergikan dalam pemahaman saya mencerna apa yang dikatakan Rendra
dalam kredonya tersebut, cukup berhasil saya rasa Djaduk Ferianto memainkan
perannya sebagai sutradara. Ritme yang mengalir untuk menggarap dramaturgi
dimunculkan dari kreativitas yang aneka.Dari pengolahan plot yang saling
sinambung dan terjaga. Dari abstraksi, klimaks dan anti klimaks, cukup
mengalir memberikan tanya yang berjawab bagi benak segenap penonton.

Naik turun penasaran penonton dimainkan dengan akumulasi permainan
cahaya atau lighting yang sinergi dengan rancak, jenaka dan senyapnya
olahan permainan musik dan layar digital animasi yang kaya nuansa. Apalagi
dengan gaya sampakan atau akting semaugua yang akhirnya menjadi ciri khas
para ”gandriker” yang sesekali meloncat dari naskah. Berupa celotehan dan
spontanitas yang kontekstual dengan alur. Tentu saja fragmen begini, yang
selalu menjadi ciri mereka dan ditunggu para pecinta dan fans beratnya untuk
menghasilkan senyum dan bahkan tawangakak. Apalagi telah dua tahun grup
teater dari Njogja ini, absen dari perhelatan, dan ditinggal pergi Heru Kesawa
Murti, salah satu dedengkotnya, yang meninggal dalam usia 54 tahun karena
sakit. Menjadikan pementasan yang emosional bagi para anggota Gandrik,
kiranya, seperti ingin menunjukkan sebuah semangat, “Teater Gandrik akan
terus hidup dan berpentas!”Mendengarkan ucapan kedua tokoh utama di balik pementasan Teater Gandrik itu, terbayang bagi saya untuk mencernanya ke dalam keseluruhan peristiwa pementasan itu di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, 16—17 April 2013. Terdapat beragam tanggapan dan respon masyarakat setelah menyaksikannya. Muncul pula kritik dari beberapa media, namun secara umum, memberikan nilai plus. Begitupun saya rasa, dari sekian penonton yang antusias menikmati suguhan seni ala nJogja itu.

 Harian Suara Merdeka melalui tulisan Sony Wibisono, tak kurang, memberikan
judul ”Idealisme Sepi Gundala ’Njembling’” pada review terhadap pementasan
itu. Namun toh, isi dari kandungan tulisan Sony lebih menekankan pada
tajuk ”Gundala”, dalam cerita yang ditulis Goenawan Mohamad ini menjadi
sosok yang sangat dirindukan Hasmi untuk dihidupkan kembali. Dan sebagai
teater modern, Teater Gandrik mematuhi rel naskah, tapi dagelan Jogja
terutama plesetannya adalah ”kewajiban”. Cerita ”Gundala Gawat” setidaknya
memberikan sindiran yang kontesktual dengan kondisi Indonesia. Pertama
kelompok koruptor, pengalihan isu dari wabah petir, dan idealisme yang tidak
laku.”

Begitupun, Harian Jawa Pos yang memuatnya sebagai headline, menekankan
sebuah data, seperti lakon-lakon sebelumnya, lewat ”Gundala Gawat”, Gandrik
tetap tampil dengan sarkastik, kritis, dan penuh gelak tawa. Untung Basuki,
aktor kawakan Bengkel Teater Rendra era 1980—1990-an, ketika saya mintai
pendapat, hanya menggeleng-gelengkan kepala. ”Saya ndak habis pikir, GM,
membuat adaptasi naskah teater yang seperti itu,” katanya.

Dan kata Iwan Sudjono, seniman Jogja yang sudah kerapkali berpentas di luar
negeri juga memberikan tanggapannya. ”Sebagai drama, secara plot cukuplah
saya pahami maksudnya. Tapi saya rasa, terlampau banyak badutannya.
Sehingga agak luput seperti apa yang saya bayangkan, ketika naskah ini ditulis
oleh seorang GM.”

Almarhum Rendra memberikan pengertian kepada saya dalam sebuah
pendapatnya, ”Yang paling menonjol dari sebuah pementasan drama adalah
bagaimana kejelian sutradara mengalirkan plot. Sehingga dramaturgi yang
terbentuk akan menjadi penanda bagaimana emosi penonton ikut dan hanyut
ke dalam semangat pertunjukan.”

Menyaksikan secara utuh, pementasan Teater Gandrik pada sajian ”Gundala
Gawat” dari sejak gladi resik, pementasan hari pertama dan kedua, dan
mensinergikan dalam pemahaman saya mencerna apa yang dikatakan Rendra
dalam kredonya tersebut, cukup berhasil saya rasa Djaduk Ferianto memainkan
perannya sebagai sutradara. Ritme yang mengalir untuk menggarap dramaturgi
dimunculkan dari kreativitas yang aneka.Dari pengolahan plot yang saling
sinambung dan terjaga. Dari abstraksi, klimaks dan anti klimaks, cukup
mengalir memberikan tanya yang berjawab bagi benak segenap penonton.

Naik turun penasaran penonton dimainkan dengan akumulasi permainan
cahaya atau lighting yang sinergi dengan rancak, jenaka dan senyapnya
olahan permainan musik dan layar digital animasi yang kaya nuansa. Apalagi
dengan gaya sampakan atau akting semaugua yang akhirnya menjadi ciri khas
para ”gandriker” yang sesekali meloncat dari naskah. Berupa celotehan dan
spontanitas yang kontekstual dengan alur. Tentu saja fragmen begini, yang
selalu menjadi ciri mereka dan ditunggu para pecinta dan fans beratnya untuk
menghasilkan senyum dan bahkan tawangakak. Apalagi telah dua tahun grup
teater dari Njogja ini, absen dari perhelatan, dan ditinggal pergi Heru Kesawa
Murti, salah satu dedengkotnya, yang meninggal dalam usia 54 tahun karena
sakit. Menjadikan pementasan yang emosional bagi para anggota Gandrik,
kiranya, seperti ingin menunjukkan sebuah semangat, “Teater Gandrik akan
terus hidup dan berpentas!”
3
Evaluasi :
Hanya saja, saya melihat, bahwa, Susilo Nugroho, yang akrab dikenali sebagai
si Den Baguse Ngarso dan menjadi pemeran Gundala, dalam beberapa adegan
nampak kedodoran, berakting tidak seperti biasanya. Bagaimana pun, ialah
aktor utama dalam pelakonan pentas itu. Jika semangatnya naik turun, pastilah
berakibat bagi yang lain untuk naik turun. Seringkali ia melakukan hal yang
fatal. Yaitu terlambat masuk ke dalam timing. Sehingga naskah yang semestinya
lucu secara naskah, lantas tak menghasilkan senyum atau ketawa penonton,
alias hambar-hambar saja. Begitupun, adegan yang semestinya dramatis.
Menyepikan suasana untuk memberi nuansa tragis, atau sitegang sebagai
gambaran tajamnya persoalan peristiwa, jadi naik turun pula maknanya dalam
pencernaan penonton.

Untungnya ada Butet Kartaredjasa, seperti yang saya lihat bermain nyaris
prima dan konsisten. Hanya saja pada pementasan hari pertama, ia
sedikit down untuk memberi nuansa dramatis pada ending pementasan.
Sebagaimana karakternya yang kuat, yaitu bersuara besar dan serak, dan
pandai mengatur tempo pengucapan, jelaslah ia jago orasi yang mumpuni.
Sehingga pintar membetot sepenuhnya perhatian penonton. Hanya tertuju
kepadanya, begitulah misteri panggung itu jika sudah jinak. Namun, kali itu,
ia mengalami dilema, terlambat timing. Sehingga semestinya, kalimat terakhir
yang menggelegar dan giris itu, ”Kalau saja para superhero tidak lagi gagah
menyuarakan kebenaran. Titenono… sopo leno, tak petir ndasmu!” akan ikut
pula memalu dan menggodam perasaan penonton. Dan menjadikan sepi ruang
alam: alam panggung, alam Concert Hall, alam penonton, sesepi kuburan.
Sehingga pada akhirnya, akan dibawa pulang sepi itu untuk terus direnungkan
menjadi semacam bahan-bahan untuk mengolah lagi.
4
Rangkuman :
Secara umum, saya melihat, para aktor cukup mumpuni memainkan perannya.
Lucu, berisi dan kritis.Terhadap pernyataan GM, bahwa pelakonan ini seperti
bermakna guyonan belaka, saya rasa ada benarnya. Tapi juga sebuah pandangan
lain dari arti sebuah guyonan, bahwa, disampaikan dengan kaidah Teater Gandrik, terasa bedanya. Akumulasi dari keseluruhan kinerja jeli sang sutradara dan dibantu seperangkat artistik kepercayaannya, memungkinkan memberi cakrawala lain di hati dan benak pemirsa.

No
Kata/kalimat yang keliru atau mubazir
Kata/kalimat yang benar
1
Harian Suara Merdeka melalui tulisan
Sony Wibisono, tak kurang, memberikan
judul ”Idealisme Sepi Gundala
Njembling’” padareview terhadap
pementasan itu.
Harian Suara Merdeka,
melalui tulisan Sony Wibisono,
memberikan judul ”Idealisme
Sepi Gundala ’Njembling’” pada
review terhadap pementasan itu
2
Seringkali ia melakukan hal yang fatal.
Yaitu terlambat masuk ke dalam timing.
Seringkali ia melakukan hal fatal. Yaitu terlambat masuk ke dalam riming
3
Mendengarkan ucapan kedua tokoh utama di balik pementasan Teater Gandrik
itu, terbayang bagi saya untuk mencernanya ke dalam keseluruhan peristiwa
pementasan itu di Concert Hall
Mendengarkan ucapan kedua tokoh utama di balik pementasan Teater Gandrik, terbayang bagi saya untuk mencernanya dalam keseluruhan peristiwa
pementasan di Concert Hall
4
Harian Jawa Pos yang memuatnya sebagai headline, menekankan
sebuah data, seperti lakon-lakon sebelumnya,
Harian Jawa Pos memuatnya sebagaiheadline, menekankan sebuah data, seperti lakon-lakon sebelumnya,
5
Tapi saya rasa, terlampau banyakbadutannya.
Sehingga agak luput seperti apa yang saya bayangkan, ketika naskah ini ditulis
oleh seorang GM.”
Tapi saya rasa, terlampau banyakbadutannya.
Sehingga agak luput seperti apa saya bayangkan, ketika naskah ditulis oleh seorang GM.”
6
Berupa celotehan dan
spontanitas yang kontekstual dengan alur.
Berupa celotehan dan spontanitas kontekstual dengan alur
7
pun, ialah
aktor utama dalam pelakonan pentas itu.
pun, ialah aktor utama pelakonan pentas.
8
Seperti diakui oleh si seniman dariNjogja yang kondang karena karakternya
yang unik dan kuat meniru berbagai logat dan karakter pengucapan tokohtokoh
nomer satu Indonesia,
Seperti diakui si seniman dari Njogjayang kondang karena karakternya unik dan kuat meniru berbagai logat dan karakter pengucapan tokoh-tokoh nomer satu Indonesia,
9
dalam cerita yang ditulis Goenawan Mohamad ini menjadi
sosok yang sangat dirindukan Hasmi untuk dihidupkan kembali.
cerita yang ditulis Goenawan Mohamad menjadi
sosok yang sangat dirindukan Hasmi dihidupkan kembali
10
Menyaksikan secara utuh, pementasan Teater Gandrik pada sajian ”Gundala
Gawat” dari sejak gladi resik
Menyaksikan utuh, pementasan Teater Gandrik pada sajian ”Gundala
Gawat” sejak gladi resik

Previous
Next Post »